Sebuah buku yang dipinjamkan atas kepedulian seorang sahabat dan mungkin bukan kebetulan. Melainkan atas kehendak Tuhan.
Memang betul, semester belakangan ini, Tuhan seperti sedang menegurku, mengujiku, atau mungkin sedang mempertanyakan keimananku. Atau memberi petunjuk karena kasih sayangnya padaku. Dan atau bisa jadi menjawab pertanyaan-pertanyan dan kebingunganku yang ku lantunkan melalui doa dan solatku. Tentu saja aku tak pernah tau. Satu hal yang kutau pada saat itu hingga saat ini pun ialah bahwa Aku takut pada Kuasa-Nya. Takut sekaligus takjub.
Tuhan sangat mampu membolak-balikan hati seseorang dalam hitungan hari, bahkan sudah pasti hanya dalam hitungan detik. Tuhan mampu merubah kepribadian seseorang hanya seperti angin yang lewat begitu saja. Kuasa Tuhan yang mencipatakan rasa sakit dan sedih itu sungguh nyata. Kun Fayakun! Maka jadilah! Semua itu terjadi. Tak dapat dihindari.
Hari-hari itu hidupku sungguh luar biasa. Jantungku berdegup sangat kencang. Tak tidur sama sekali selama dua hari pun aku tak merasakan kantuk. Perutku sakit, melilit, dan suhu badanku panas tinggi. Riwayat penyakit
maag terkadang seperti ingin membunuhku disaat kambuh akut. Asam lambungku
naik. Bagaimana sesuap nasi masuk ke dalam perutku. Tak sepiring nasi pun ku lahap dalam 3 hari. Aku berusaha tetap menunaikan ibadah puasa dan gagal di hari ke 3. Aku tak tahan lagi.
Subuh itu, seperti biasa aku mengambil air wudhu untuk menunaikan panggilan Tuhan. Saat jemariku menyentuh percikan air wudhu, rasanya seperti salju. Jakarta yang hangat menjadi sedemikian dinginnya hingga membuat tubuh ini kaku, Beku. Seusai solat, aku menggigil kedinginan dan gigiku gemertuk bersahutan. Aneh. Jantungku berdetak lebih kencang dan air mata deras mengucur di pipiku. Saat itu aku sendirian. Dzkir dan asma Allah ku lantunkan dalam hati. Selintas, ku pikir aku akan mati.
Aku gagal menunaikan ibadah puasa hari itu, dokter memberiku banyak obat dan merujuk ku untuk cek EKG. Ada apa lagi ini? Berbagai terapi pun kujalankan, kata-kata depresi berat itu rasanya seperti penyakit kejiwaan. Entahlah, aku tak paham. Aku pikir ini hanya masalah hati. Ternyata tidak sesederhana itu. Badanku lemah berhari-hari. Penyakit datang silih berganti. Obat-obatan sudah banyak masuk ke dalam ususku. Sempat berfikir "Tuhan cabut saja nyawaku. Aku sudah tak tahan lagi!"
Aku merasa hari itu bagaikan titik dalam sebuah kalimat. Aku tak sanggup lagi menopang badanku. Hidupku terlalu berantakan. Aku tak mampu lagi berfikir jernih. Penyakit demi penyakit memakan ragaku, melemahkan tubuhku. Aku tak dapat beraktifitas. Lemas. Berbagai terapi kujalankan, kegiatan rohani kulakukan. Tapi aku hanyalah manusia biasa. Aku bukan benda mati. Pun aku bukan seorang Nabi. Aku adalah makhluk hidup yang nyata diciptakan Tuhan , diberikan akal, pikiran, dan perasaan. Aku memiliki hawa nafsu dan emosi. Terlebih atas kuasanya, Tuhan menciptakan rasa sakit dan kesedihan. Semua ini mungkin atas kehendaknya?
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan "Kami telah beriman, dan mereka tidak diuji?" Dan sungguh, Kami orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta" (Q.S. Al-Ankabut, 29:2-3)
Sempat hatiku berfikir menenggelamkan diriku sendiri dan mendahului ajal Tuhan. Terdengar bodoh dan berlebihan. Tapi aku pun tak menyangka bahwa Aku sungguh makhluk tak berdaya. Tuhan teramat menyayangiku, dan lalu seolah berbisik padaku. Iman ini akhirnya membuatku tetap ada hingga aku dapat menuliskan kisahku dalam tulisan ini. Kisah sederhana, namun rumit bagi siapa yang menjalani.
"Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri" (Q.S. Al-Baqarah 2:195)
Disaat manusia seperti hilang akal dan terbawa emosi, apa pun terbersit tak terkendali. Percayakah? Tentu hanya yang mengalami yang tau pasti. Selang beberapa hari, aku membaca ayat di atas yang berisikan larangan keras dan seperti sebuah peringatan. Sekali lagi aku ingin berkata "Terimakasih Tuhan, Engkau telah menolongku!"
Aku merindukan-Mu, Ya Rabb!
Masalah patah hati di usia yang tidak terbilang remaja, terlebih menyinggung masalah pernikahan dan cinta yang terlalu dalam memang pasti akan menimbulkan kekecewaan. Hari hari itu kesedihan banyak berdatangan. Ibu sakit, bapak masuk Rumah Sakit, penyakit maag yang terus-terusan menyerang, hingga aku harus meninggalkan pekerjaan. Hatiku bertanya-tanya. "Apa yang hendak Kau sampaikan, Tuhan?" Dan lalu Tuhan menjawab pertanyaanku melalui firmannya :
"Karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi)terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan" (Q.S. Al-Imran 3:153)
Kita, kebanyakan manusia tidak mengingat Tuhan dikala berkecukupan. Kita, manusia tidak akan menyebut asmanya dikala hati sedang senang. Kebanyakan manusia mengingat Tuhan saat diberikan ujian. Bukankah begitu? "Ampuni aku Tuhan!". Hampir saja aku mengubah alur ceritaku untuk menjadi seseorang yang lain dan jauh dari ajaran Tuhan. Tapi sekali lagi, iman ini menahanku. Hingga akhirnya aku sadar "Aku merindukanmu, Ya Rabb! Aku sangat merindukan-Mu!".
Siang malam kulantunkan dzikir, shalawat dan doa sebagaimana diajarkan. Air mata ini tak kunjung henti larut dalam curahan hatiku pada Tuhan. "Ya Allah, beri aku kedamaian. Ya Allah, beri aku keikhlasan!" Hari demi hari kulewati dengan berusaha memiliki hati yang lapang. Mudahkah? Tentu tidak.
Aku mengevaluasi hidupku selama ini. Benar, selama tinggal di ibu kota, menunaikan solat hanya seperti sebuah formalitas kehidupan. Yang lain-lainnya, pun demikian. Seperti pemenuhan kewajiban bahwa Aku telah menunaikan perintah-Nya. Dan tentu saja masih banyak kekurangan lain yang tidak mungkin ku sebutkan satu persatu karena akan menghabiskan banyak halaman untuk mencantumkannya. Aku yakin, datangnya ujian dan cobaan merupakan peringatan keras dari Tuhan karena kasih sayangnya terhadap umatnya. Melalu cobaan ini, Tuhan sedang berbicara padaku.
Sesungguhnya Kamu Kuat!
Tidak sedikit orang mengeluh dan marah ketika diberikan ujian. Disaat impian tiba-tiba dimusnahkan atau seperti direnggut tanpa sebab. Disaat nikmat seakan akan dicabut. Disaat badan sepertinya lemas tak berdaya dan lalu muncul pikiran "Aku Tidak Kuat Lagi!"
"Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya."(Q.S. Al-Baqarah 2:286)
"Dan sungguh, kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar diantara Kamu; dan akan Kami uji perihal Kamu." (Q.S. Muhammad 47:31)
"Mereka itulah yang memperolah ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (Q.S. AL Baqarah, 2:157)
Sesungguhnya kamu (aku) kuat. Sesungguhnya Tuhan sedang menguji kita pada porsinya. Sesungguhnya kita akan mampu melewatinya. Kalo kata seorang teman "You are more than what you think!" That's totally right! I've been there and I'm here now. Still here. Walaupun dalam keadaan merangkak.
"Berkata mudah, menjalankan yang susah!" kalimat yang tidak akan pernah kusangkal hingga kapanpun. Bahkan seorang motivator akan lebih mudah berkata di khalayak ramai ketimbang menjalani. Bahkan seorang psikolog akan lebih mudah menasihati dibanding mengalami sendiri. Sama halnya seperti tulisan ini. Sama hal nya seperti membaca ayat di atas. Ayat yang bahkan jelas turun langsung dari Sang Khaliq. Aku pun mengalami. Sekilas seperti ingin mempertanyakan "Lalu mengapa aku masih saja merasakan sakit?"
"Terkadang ada saat-saat indah dalam hidup ini. Saat yang terjadi ketika engkau merindukan seseorang dengan begitu dalamnya hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu. Lalu, memeluknya erat-erat."
Memang, segala sesuatu perlu waktu. Tidak semudah memetik daun bawang di halaman belakang. Dan aku pun mengalami. Menerima kenyataan pahit itu tidak mudah seperti menerima kabar gembira. Jika ujian pertama air mataku menetes hingga tujuh ribu, ujian kedua akan hanya lima ribu, ujian ketiga dua ribu, dan seterusnya hingga akhirnya kering. Tidak ada lagi air mata. Apakah aku sudah mencapai yang terakhir? jawabannya belum. Semua itu sedikit demi sedikit akan memudar seiring berjalannya waktu. Waktu lah yang akan menjawab semua gundah di hatimu (ku). Time heals everything. It Will!
Sebagai bahan Renungan!
Seorang teman berkata : "Mungkin semua cobaan yang kau alami seharga dengan keburukan yang pernah kau lakukan padanya untuk kau tebus atau mungkin seharga dengan imbalan yang harus kau berikan atas kebaikan yang pernah ia berikan padamu!" benar sekali. Aku pernah membaca sebuah tulisan entah dimana yang kira-kira begini bunyinya : "Seseorang yang telah memberikan hatinya padamu, ia akan memberikan waktunya untuk mu. Waktu dan hati itu adalah bagian dari kehidupan!". Do you know what it means?
Seseorang yang pernah menyayangimu itu artinya dia pernah memberikan sebagian kehidupannya untukmu. Boleh jadi kita pernah marah, kecewa, sakit, atas perlakuan seseorang terhadap kita. Tapi kita tidak boleh melupakan bahwa ia adalah orang yang pernah menyayangi kita. Ia adalah orang yang pernah memberikan sebagian hidupnya untuk kita. Dan kita pernah teramat sangat menyayanginya. Artinya, kita pernah bertukar dan saling memberikan kehidupan. Ya, seperti itulah kira kira.
Ingat, tidak ada sebab yang tidak menimbulkan akibat. Atau sebaliknya tidak ada akibat yang muncul tanpa sebab. Terkadang kita ingin melampiaskan kekesalan dengan lebih menyalahkan orang lain. Bisa jadi kita lah yang menjadi sebab sehingga muncul akibat. Dan lalu tentu saja jika ditelisik lagi, apa yang menjadi penyebab kita adalah sebagai akibat dari sesuatu yang mungkin saja kembali pada ia. Siklus itu akan terus berlanjut dan berputar. Sebab-akibat-sebab-akibat (tak berujung).
Kita tidak akan pernah tau misteri dibalik asal muasal sebab yang menghasilkan akibat. Singkat kata, cara paling bijak adalah Introspeksi diri. Kenapa? Yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita sendiri. Dan dengan demikian, kita akan lebih bijak dalam bertindak sehingga siklus sebab-akibat akan berotasi lebih baik dan lebih baik lagi. Be wise!
"Ketahuilah, ketika dilahirkan, engkau berada dalam keadaan menangis, sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum. Saat ajal datang menjemputmu, engkau harus bisa tersenyum, sementara semua orang di sekitarmu menangis. Jadi, jalani hidup ini dengan penuh kearifan"
Sebuah Kutipan yang Perlu Diingat !
"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. AL-Baqarah 2:216)
Kita manusia akan selalu bermimpi dan mengejar apa yang kita inginkan. Ketika apa yang kita mimpikan itu tidak menjadi kenyataan, ada perasaan sedih, kecewa atau terluka. Kadang kita marah dan bertanya-tanya, apa yang salah dengan sebuah mimpi? apa yang salah dengan sebuah keinginan? Sudah menjadi fitrah manusia bahwa kita berfokus pada apa yang kita harapkan dan mengejar apa yang kita cita-citakan. Memperjuangkan apa yang kita inginkan. Namun, sesungguhnya Tuhan tau yang terbaik dari segala hal yang baik bagi kita. Tuhan lah yang maha mengetahui apa yang sebaiknya menjadi milik kita. Dan pada akhirnya kita hanya akan menyadari bahwa semua ini adalah rencana Tuhan dan bagian dari proses yang harus kita jalani.
"Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka. Namun, seringkali kita memandang terlalu lama ke arah pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu lain yang terbuka bagi kita."
Kutipan di atas adalah penutup dari tulisan ini. Semoga datangnya
masalah tidak membuat kita rentan dan goyah, namun menjadi titik dimana
kita melangkah menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Dan tentu saja terbaik untuk kita semua. Insya Allah akan banyak hikmah yang bisa diambil dari semua ini dan semoga menjadi moment untuk bermuhasabah diri. Ingat selalu firman-Nya :"Karena sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan." (self reminder :) )
"Hati yang patah bukan dalih untuk melangkah dengan goyah, namun ia justru satu cambuk agar langkah tidak lagi salah!"
- Syahid Aulia-
Jakarta, Agustus 2016

Get well soon...
ReplyDelete:)
DeleteKak Sylvaa masih ingat aku yang ketemu di YMF? semoga lekas sembuh ya kak :")
ReplyDeleteHai fittt,,,makasih ya. aku masi inget banget kok :) sehatkah disana?
DeleteAlhamdulillah sehat kaak. Kaka semoga segera sehat yaa :)
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete