Dear Semesta Alam,
Aku mempercayai seseorang dan sangat sangat
mempercayainya dari lubuk hatiku. Aku meyakini bahwa bersamanya, hidupku akan
bahagia.
Aku memanglah manusia yang penuh dengan kekurangan.
Ketidaksempurnaan mungkin sudah fitrahku. Aku tau bahwa aku bukan apa-apa. Ibu
dan bapak mengajarkanku akan kasih sayang. Mereka mengajarkanku tentang suatu
keyakinan dimana aku harus meyakini apa yang ku yakini, memperjuangkan apa yang
patut untuk diperjuangkan.
Seseorang yang menjadi pilihan hidupku, pastilah
seseorang yang pantas untuk diperjuangkan. Aku
tidak malu jika hari itu aku mengejar mimpiku dan merendahkan rasa ego ku. Aku tidak
mengenal harga diri seperti yang orang-orang agungkan. Semesta alam, kumohon
jangan melihatku seperti pengemis di jalanan. Bukan, bukan seperti itu. Waktu
bertahun-tahun dalam sebuah perjalanan dan perjuangan mendatangkan keyakinan
itu padaku. Bagiku, memulai segalanya bersama bukanlah hal yang sederhana, semua tidak terumuskan oleh kata-kata. Aku
ingin tetap mempertahankan perjuangan itu. Aku yakin, dia layak mendapatkannya.
Wahai Semesta Alam,
Aku tidak malu jika hari demi hari itu dia memandangku sebelah mata. Aku bagaikan titik hitam kecil di tengah kerumunan. Orang-orang mungkin sedang menertawakanku dan menganggap ini sebagai sebuah kebodohan. Namun aku bangga, aku telah memperjuangkan segala cara yang ku bisa seperti yang Ibu ajarkan. Saat aku merasakan cinta dan kasih sayang yang tidak sama sekali terencanakan, ini bukan hanya sekedar ucapan seperti yang orang gembor-gemborkan. Dan Aku telah membuktikan.
Apakah ini ketulusan?
Aku tidak malu jika hari demi hari itu dia memandangku sebelah mata. Aku bagaikan titik hitam kecil di tengah kerumunan. Orang-orang mungkin sedang menertawakanku dan menganggap ini sebagai sebuah kebodohan. Namun aku bangga, aku telah memperjuangkan segala cara yang ku bisa seperti yang Ibu ajarkan. Saat aku merasakan cinta dan kasih sayang yang tidak sama sekali terencanakan, ini bukan hanya sekedar ucapan seperti yang orang gembor-gemborkan. Dan Aku telah membuktikan.
Apakah ini ketulusan?
Mencintai seseorang bukanlah perkara mudah bagiku.
Bermimpi adalah pegangan hidupku. Aku akan berusaha sekuat yang kubisa untuk
mewujudkan mimpi-mipmiku. Sisa dari segala usahaku, akan kuserahkan kepada Sang
Pencipta, Sang Pemilik Hati, Sang Pemilik Kehidupan. Wahai Semesta Alam, ini mengenai sebuah keyakinan dan prinsip hidupku. Jika hari ini, aku, dengan usaha kerasku
memperjuangkan sesuatu, maka suatu hari nanti, ku yakin bahwa sesuatu itulah yang akan datang untuk
memperjuangkanku, memperjuangkan hidupku.
Benar, tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha dan hidup ini tidak pernah terlahir sia-sia.
Benar, tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha dan hidup ini tidak pernah terlahir sia-sia.
-Sylva-

0 komentar:
Post a Comment