Waktu itu, waktu menunjukan pukul 8 malam. Aku baru saja pulang bekerja dan duduk di samping tempat tidur, di sudut kamar kosan. Tiba-tiba telponku berdering. Terlihat pesan bapak yang memberitahukan bahwa operasi katarak telah selesai dan Bapak masih harus beristirahat di rumah sakit malam itu. Aku pun menelpon bapak.
"Disitu ada siapa Pak?" tanyaku. "Tidak ada. Ibu dan yang lain baru saja pulang bersama adik dan kakakmu. Ibu besok masih harus bekerja, adikmu harus pergi ke Sekolah dan Kakakmu harus menjaga si mungil Ahsan (keponakanku yang masih balita). Jadi, Bapak suruh semuanya istirahat di rumah saja". Sedih rasanya aku tidak bisa hadir menemani bapak di rumah sakit malam itu. Bahkan tidak datang untuk menjenguknya.
Kami berasal dari keluarga sederhana. Setauku, bapak adalah sosok yang
kuat. Kami bahkan tidak sering pergi ke dokter untuk
sekedar memeriksa jikalau sesuatu terjadi pada kami. Baik aku ataupun
bapak, tidak mengenal rumah sakit dan sekalipun dirawat di sana. Waktu itu, aku bertanya mengenai proses operasi dan terdengar suara bapak. Berat. Bapak menjelaskan proses operasi dan sedikit tawa terdengar dari suaranya, tawa untuk menutupi rasa takutnya. Takut akan kekhawatiranku.
Ini kali pertama aku bercakap dengan bapak melalui telepon dengan durasi yang panjang. Aku tau, bapak sedang merasa kesepian. Aku baru tau bahwa hari itu, Bapak pergi ke rumah sakit sendirian dan lalu tiba-tiba keesokan harinya bapak bercerita kepada keluarga di rumah bahwa bapak akan operasi. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Aku baru menyadari bahwa ternyata sikap mandiriku mirip dengan bapak.
Aku meminta maaf kepada Bapak kalau aku tidak bisa menemani bapak. Lalu
bapak pun berkata "Ingat, kita tinggal di bumi yang sama, bumi Allah.
Jangan pernah merasa jauh. Bahkan apa yang kita ucapkan di dalam hati
kita, Allah mendengar. Lagipula, bapak disini baik-baik saja". Aku tersenyum. "Kamu harus baik-baik di Jakarta. Makan, istirahat, jangan banyak pikiran!"
Bapak bercerita panjang tentang perjalanan dan nilai-nilai kehidupan. " Di dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak pernah kita duga. Jangan kaget, jangan heran. Begitulah yang namanya kehidupan. Jangan terlalu mengejar apa yang kita inginkan. Jalani saja dengan baik. Inshaallah hasilnya akan baik. Tetap tawakal, pasrahkan semuanya kepada Allah. Ingat, Allah lebih dekat dari urat leher kita. Memohonlah pada-Nya". Kata-kata bapak penuh arti dan makna.
Bapak menceritakan Almarhum kakek yang meninggal di usia 63 tahun, "Tidak terasa, umur bapak sudah 57 tahun. Kakek meninggal di usia 63, Bapak sih minta umur bapak di dunia sama seperti Kakek. Jadi, ternyata kalo Allah mengabulkan, sisa bapak hidup di dunia ini tinggal 6 taun lagi. Yaaa, untuk apa hidup lama-lama. Hidup bukan mengenai berapa lama kita tinggal di dunia ini tapi apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia". Aku pun menitikkan air mata dan mengalihkan topik pembicaraan.
Akhir-akhir ini, aku, bapak dan Faris memang lagi sering-seringnya berbagi cerita tentang keyakinan, tentang Islam. Terkadang hingga jam 2 pagi kami masih di ruang tengah untuk berbagi pengalaman. Bapak selalu menguatkan kami tentang keyakinan, berlanjut topik tersebut di telepon, Bapak berpesan :" Jangan lupa sholat, jangan lupa bangun malam, perbanyak sedekah dan sering-seringlah membaca shalawat, dimanapun berada!"
:'-)
Oh iya, waktu itu bapak berpesan agar aku membaca surat Al-Insyirah. Aku pun membuka Al-quran terjemahan ku, ku baca ayat tersebut beserta artinya. Ternyata begini bunyinya :
source: anesjaepule.wordpress.com
Terjemahan Surat Al Insyiroh:
1. Bukankah kami telah melapangkan dadamu?,
2. Dan kami telah menghilangkan bebanmu,
3. Yang memberatkan punggungmu [1584]?
4. Dan kami tinggikan sebutan (nama)mu [1585],
5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain [1586],
8. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Surat di atas seolah menjadi titik balik bagiku bahwa aku harus ikhlas menjalani segala sesuatu di dunia ini dan menyerahkan segalanya kepada Sang Khaliq. Sesungguhnya segala kesulitan di dunia ini mampu kita hadapi dan hanya kita yang meyakininya, yang mampu menopang diri kita sendiri. Dan bahwasannya kita harus bangkit. Allah bahkan telah berjanji kepada kita bahwa akan ada hari esok yang lebih baik. Dan Aku sungguh percaya janji Allah itu sungguh nyata.
Jakarta, 2016

0 komentar:
Post a Comment