Seperti biasa, aku berjalan diantara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Menengok sekitar dimana langit telah gelap namun lampu-lampu ramai menyala dan ritme kehidupan masi jauh dari kata sunyi. Sedikit termenung di teras ibu kota, Aku terdiam, menjelang peperangan tiada henti menuju macetnya kota Jakarta. Benar, kemacetan ini seperti sudah menjadi makanan sehari-hari penduduk di kota ini. Bahkan di setiap penjuru kota. Sungguh, tiada henti.
Memikirkan esok hari yang harus kembali duduk di pojok ruangan diantara tumpukan kertas kertas dan memandangi layar lebar lalu beraktifitas dengan angka-angka. Huh...tidak mengerti lagi! Setiap bangun pagi, rasanya seperti tertarik gravitasi bumi. Sulit untuk melangkah. Di tengah orang-orang yang berpakaian rapi, yang entah benar memang mereka sedang menikmati atau hanya tuntutan peran demi mengejar pundi-pundi. Sudah lah aku tak peduli! Namun, benarkah aku terjebak?
Jika menyelami kembali rutinitas yang terkesan itu itu saja, rasanya ingin menghela nafas. Mau tidak mau realita kehidupan menelan kaum-kaum idealis. Para hedonis ini seperti menularkan virus dan menjalar bagi mereka yang berada di sekeliling. Disaat waktu seperti dicuri hanya demi mengejar materi yang tak seberapa, disaat kebebasan dimakan oleh berbagai aturan para kaum kapitalis, disaat hasrat tersendat ketidak inginan yang bimbang dikekang kebutuhan. Rasanya bosan! Aku ingin segera berakhir pekan.
Setiap waktu yang kita lewatkan menjadi seperti diperhitungkan karena kejenuhan. Kapan semua ini akan berakhir? Ah....entahlah. Lagi-lagi lantunan tentang keluhan. Semoga saja ada jalan keluar dari semua ini, dari segala hal yang membosankan dan tidak mencerminkan kepribadian. Semoga kelak ada sesuatu yang menguatkan dan atau aku berhenti berperang dengan alasan suatu tujuan. Semoga. Secepatnya!
0 komentar:
Post a Comment