The Owly Tales

My Journal

Teringat Kebaikan Bapak Gojek

Leave a Comment
Pukul satu lewat tengah malam, aku sedang di terminal Kampung Rambutan setelah menikmati perjalanan melelahkan menaiki bis jurusan Sukabumi-Jakarta yang ku naiki dari depan pintu tol di kampung halaman. Waktu itu sudah kehabisan ide karena travel terdekat sudah tak ada, dan yang lainnya terlalu jauh ke kota. Sudahlah aku tak ingin merepotkan, kuambil jalur tercepat walaupun rasanya deg-degan. Disanalah akhirnya aku berdiri seorang diri.

Lelah, linglung sekaligus sedih. Terasa sekali banyak pikiran. Malam itu aku harus kembali ke ibu kota dan menjalani ibadah puasa tanpa keluarga. Terlebih, sahur sendirian. Tak ada bapak, ibu dan tawa ricuh si dua jagoan. Linglung, karena itu kali kedua aku berada di terminal kampung rambutan dan kali pertama aku berdiri disana sendirian, wanita, tengah malam. Menggendong sebuah ransel di punggung badan dan menengok kiri kanan. Samar,,,menyeramkan. Harus kemana aku?

Melirik sini sana aku tak tertarik lagi, hanya bertanya pada bapak Warung, “Arah Blok M kemana pak?” Bersikap seolah biasa saja, seperti wanita tangguh. Padahal, hanya seorang gadis pedesaan yang sedang melawan rasa takut dan berdoa agar Allah melindungi. “Ingat Sylva, Kamu Tidak Sendirian!” Akupun memindahkan tas ke balik punggung dan memeluknya erat, lalu terus berjalan mencari jalan keluar pintu terminal. Akhirnya sampai. Waktu itu terasa sekali bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan. Walau bagaimanapun, jalani saja. 

Sebelumnya, aku tak berbuka cukup karena harus bersiap ke Jakarta. Perutku tiba-tiba lapar. Aku mencium bau nasi goreng, yang lumayan ramai pengunjung di dekat pintu terminal di pinggir jalan. Sepertinya aku akan mampir. Aku lapar sekali, namun ku lihat ke arah jam tangan waktu sudah hampir pukul dua larut malam.Mungkin kubungkus saja. “Bang, nasi goreng kambing, satu dibungkus!” Si abang mengiyakan. Terlihat si Abang memasak nasi dalam porsi besar. Kira-kira untuk jumlah banyak. Aku pun berdiri, menunggu dan menonton si Abang memasak dalam katel besarnya. Sepertinya sudah mau selesai.

Baiklah, sementara si abang nasgor menyelesaikan pesananku, mungkin aku bisa pesan gojek. Aku pun memesan dengan asumsi saat nasi goreng selesai dibungkus, si bapak gojek datang. Aku sudah menunggu lama dan akhirnya gojek tiba. “Mohon maaf tunggu sebentar ya Pak!” si Bapak rela menunggu. Setelah agak lama menunggu, dan aku pun merasa tak enak karenanya, akhirnya nasi goreng matang. “Bang pesanan saya?” “Setelah ini ya mbak!” Hahhhhhhhhh,,,,jadi daritadi belum dimasak? Akhirnya aku tidak jadi beli karena tidak ingin bapak gojek menunggu lebih lama.

“Loh nasi gorengnya mana neng?” Tanya bapak gojek.
“Gajadi pak, pesanan saya ternyata belum dibuatkan!”
“Ga apa apa neng, saya tunggu”
“Gausah Pak, saya gajadi pesan!”

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju kosan. Di tengah perjalanan, aku menyadari bahwa ini bukan jalan biasa yang harus aku lalui. Kalau tidak salah, dari terminal kampung rambutan menuju Wolter Monginsidi kan bisa langsung lewat Mampang lalu tendean. Lagipula tengah malam begini mana mungkin menghindari macet menjadi alasan. Mau dibawa kemana aku? Tiba-tiba takut. Ingin bertanya, tapi masih meraba-raba jalan. Dimana ini? Tiba-tiba si bapak gojek berhenti di depan abang nasi goreng, “Yah, maaf neng, saya pikir masih buka!” Ya ampun, ternyata bapak ini masih mencarikan abang nasgor. “Bapak, carikan saya nasi goreng ya? Betul pak, gausah, saya gajadi beli!” sempat berdebat kecil karena aku tidak ingin merepotkan sang bapak dan bapak keukeuh sekali.

Lanjut di perhentian berikutnya “Bang, masih ada?” “Sudah habis, Pak” jawab si abang nasgor. “Pak, nanti saya masak di kosan aja” kataku. “Gak apa-apa neng, saya tau neng mau saur di kosan. Tadi habis balik kampung kan?” Aku pun terharu dan tidak tau lagi harus bilang apa. Aku tidak ingin berdebat lagi menolak kebaikan si bapak. Pencarian nasi goreng ini berlanjut hingga di perhentian...mungkin ke-lima. “Neng, ini masih buka!” aku pun terharu dan memesan. Sempat ku tawarkan juga, namun sang Bapak menolak. Ya Tuhan, masi banyak orang baik di dunia ini, di kota ini. Padahal aku sempat takut dan berburuk sangka. Kataku dalam hati. 

Aku pun selesai dan kami melanjutkan perjalanan menuju kosan, memakai sepeda motor si Bapak Gojek. Sesampainya di kosan, aku membuka handphone dan entah kenapa, aku melihat sesuatu yang tidak ingin ku lihat. Sesak sekali rasanya dada ini, sangat sesak. Air mata tiba-tiba mengucur sangat deras. Tak ingat lagi perut lapar, tak ingat lagi harus sahur atau makan, tak ingat lagi nasi goreng yang baru saja ku beli atas kebaikan sang Bapak Gojek. Hanya ada tangis dan sesak di dada hingga pagi dan aku pun tetap melanjutkan berpuasa.

Tiga malam telah kulewati tanpa nasi, aku pun baru teringat bahwa aku membeli nasi goreng dini hari itu. Tiga hari yang lalu. Aku membuka kembali nasi goreng yang terletak di dalam keresek di atas meja. Aku sedih. Ingin sekali aku memakannya. Bukan karena merasa lapar, tapi aku teringat kebaikan sang Bapak Gojek yang berputar-putar hanya demi membantu orang yang akan berpuasa. Padahal aku tau benar, bahwa itu tentu saja merugikan argo si Bapak Gojek. Aku membuka bungkusan nasi goreng, dan nasi goreng pun telah basi.

Bagaimana bisa, aku mengabaikan kebaikan seseorang yang telah memperjuangkan waktu dan bahkan tak mengharap bayaran lebih. Bagaimana bisa, aku membuang sebungkus nasi padahal banyak orang kelaparan di luar sana. Entah kenapa rasanya sedih.  Kebaikan bapak gojek itu bahkan tak sampai di tenggorokanku, apalagi di perutku. Aku menyesal. Tapi aku tak bermaksud begitu. Maafkan Aku Bapak Gojek, aku tidak menghargai Bapak. Maafkan aku, Aku telah mengabaikan kebaikan Bapak. Maafkan Aku, sempat berburuk sangka pada Bapak yang memiliki hati mulia. Walau demikian, aku yakin Tuhan telah melihat kebaikan Bapak. 

Terimakasih banyak Bapak Gojek, Semoga rezeki Bapak berlimpah dan kebaikan Bapak akan selalu dibalas berkali lipat oleh Yang Maha Kuasa. Amin!



Bandung, September, 2016
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment