Berhenti mencari tau adalah sudah menjadi keputusan
terbaik tanpa pilihan atau keputusan tak pasti karena akan dihantui banyak
pertanyaan. Bukan ingin tak peduli lagi, sebagai manusia kita harus peduli
terhadap sesamanya bukan? Tapi ini bukan hal-hal seperti itu. Pada intinya,
sebagai manusia, kita berusaha. Berusaha mempersiapkan diri agar suatu hari
tidak lagi memandang sesuatu dari sisi yang menyakitkan. Namun lagi, sepertinya
Tuhan berkehendak lain.
"Adakala dimana jantungmu seolah
berlari saat seseorang tiba-tiba menyapamu atau hanya menanyakan kabarmu.
Disitulah kamu yakin bahwa sesuatu terjadi di luar sana dan dunia tidak sedang
baik-baik saja!"
Sedikit memutar waktu ke belakang, gambar demi gambar
berdatangan, berita demi berita bermunculan. Tidak hanya satu atau dua orang.
Berbagai macam pertanyaan dilontarkan, seperti menghujam jantung tanpa permisi.
Hhhhhh, menghela napas dalam-dalam (lagi). Seandainya
mereka tau aku sedang berusaha mengeringkan luka. Sepertinya malah mendapat
perasan air garam. Sepintas dalam hati. Jam 3 dini hari itu, aku sudah
memejamkan mata berjam-jam, ternyata masih terjaga. Akhirnya, apa yang hanya
ada dalam pikiran, ku lontarkan juga. "Aku
harus bagaimana lagi?"
"Sebanyak apapun pertanyaan yang kamu ajukan, sebetulnya kau sudah tau jawabannya bukan? "
Benar! Mungkin aku sudah tau aku harus ikhlas dan aku
pun ingin ikhlas. Aku tau semua ini adalah kehendak-Nya. "Lalu?" Aku
ingat betul hari hari itu aku bimbang. Status ku pengangguran. Hubungan tidak
ada kejelasan. Aku merasa sedang jatuh. Aku membutuhkan dorongan dan
menginginkan jawaban. Aku membutuhkan pertolongan Tuhan. Aku banyak meluangkan
waktu untuk meminta petunjuk-Nya. Aku tidak hanya melakukan solat lima waktu
dan berdoa kepada-Nya. (Seolah seperti sudah melakukan hal yang benar!)
"Bukankah doamu telah didengar? Bukankah doamu
sudah dijawab?"
Iya, aku yakin! Maka mungkin ini berarti adalah jawaban
dari Yang Maha Kuasa. Lalu kenapa hati ini masih mengenal sedih jika ini
adalah kehendak-Nya? Lantas jika semua ini atas kehendak-Nya kenapa semacam ada
perasaan kecewa? Apakah aku menginginkan kesedihan? Apakah aku menginginkan
sakit? Tidak! Tidak ada yang ingin sakit hati. Tidak ada yang memilih untuk
bersedih.
Aku akan menghargai seseorang yang memutuskan
pergi jika itu membuatnya bahagia. Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk
tinggal jika aku tak mampu membuatnya bahagia. Aku juga tidak akan meminta
sesuatu yang bukan milikku untuk menjadi milikku. Untuk apa? Aku tau bahwa
semua orang punya hak atas pilihan hidupnya. Semua orang berhak bahagia
terlepas dari apapun yang dirasakan orang lain yang berseberangan. Tapi kenapa
Tuhan memberiku perasaan seperti ini? Tentu semua ini bukan atas keinginanku.
Aku (pun) lelah! Haruskah aku mengatasnamakan manusiawi atas
ketidakpuasan?
"Apakah saat berdoa kamu telah pasrah?"
"Apakah saat berdoa kamu telah menyerahkan semua
kepada-Nya?
"Apakah saat berdoa kamu sudah pasrah pada
keputusan-Nya?
'(........)" Aku pun diam.
Saat berdoa kita pasti cenderung pada satu jawaban.
Saat berdoa, kita pasti cenderung memihak pada apa yang kita inginkan. Bahkan
saat seseorang melakukan sholat istikhoroh, ia pasti lebih cenderung memikirkan
bahwasannya jawaban Tuhan adalah seperti apa yang ia harapkan. Disitulah, kita
lupa pasrah! Kalo bapak bilang, mungkin Tuhan ingin memberikan sepuluh, namun
kita hanya meminta tujuh. Jadi, jangan pernah mematok nilai karena kita tidak
pernah tau rencana Tuhan. Pasrah!
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu
memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh
kebenaran" (Al-Baqarah, 2 : 186)
Kita sering kali melihat suatu kejadian dari satu
sisi, sudut yang paling mencolok dan hanya terlihat oleh kita. Padahal Tuhan
lebih tau apa yang tidak kita ketahui. Padahal sesungguhnya banyak hal yang
harus kita syukuri. Seperti halnya Tuhan yang mengutus mereka untuk
mengingatkanku lagi dan lagi atas kuasa-Nya. Tuhan yang mengutus mereka untuk
menguatkanku seperti apapun jalannya. Tuhan menginginkan seorang hamba-Nya
lebih kuat. Dan bisa jadi orang itu adalah kamu, aku, kita!
"Saat seseorang menyakiti kita dan
kita masih peduli terhadapnya, disitulah kita baru mengetahui bahwa ada
ketulusan di dalam diri kita tanpa selama ini kita sadari. Bersyukurlah
karenanya!"
Jika Tuhan menghendaki umatnya menempuh suatu jalan,
tidak berarti ia langsung dikuatkan dan semuanya mulus tanpa guncangan. Jika
begitu, takkan ada yang namanya sedih. Takkan ada yang namanya sakit. Takkan
ada yang namanya duka. Semua orang bahagia. Berarti tak ada yang namanya
empati. Tak ada proses belajar dan menghargai. Terkadang manusia bersedih tanpa
terencanakan atau diingin-inginkan. Maka mungkin memang Tuhan sedang
menginginkan kamu bersedih agar kamu mengenalnya, agar kamu mengerti seperti
apa rasanya dan memahami saat orang lain mengalaminya.
Walau bagaimanapun, ingatlah, saat kamu bersedih,
bahwasannya akan selalu ada orang yang berkali lipat jauh lebih sakit dibalik
kesedihanmu, yaitu Ibumu. Dan sepintar apapun kita menyembunyikan perasaan itu,
ia akan mengetahui. Maka berusahalah untuk tidak berlarut dalam kesedihan,
setidaknya demi ibumu.
"Orang yang
menyayangi kita; tidak akan pergi meski kita sudah menyuruhnya pergi,
berteriak, "tinggalkan aku sendiri." Orang yang menyayangi kita,
tidak akan menyerah kepada kita, meski kita sudah bilang menyerah
kepadanya" *Tere Liye
Ketika Akhirnya Mengenal "Syukur!"
Suatu hari, aku kedatangan dua orang teman dan pertemuan kami berujung di sebuah warung tenda di pinggiran ibu kota. Mereka datang hanya sebatas menanyakan kabar dan banyak orang ingin mengetahui bahwa aku baik-baik saja. Well, Im not sure yes it was. But, in fact, Im alive. Still alive. Ini hanya masalah pribadi yang seharusnya tak penting sama sekali. Namun, lain orang lain rasa. Dan terimakasih Tuhan, dunia mengerti! Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari obrolan kami malam itu.
"Bisa jadi Tuhan yang mengirim kami agar kamu
tidak bersedih (lagi), seperti apapun kondisi yang sedang kamu alami. Kamu
berdoa, Tuhan mengabulkan. Jika Tuhan sebetulnya telah mendengar doamu dan
mengirimkan bantuannya padamu sedang kamu mengabaikan, mungkin Tuhan pun akan
lelah! Ingat, banyak orang peduli terhadapmu dan mereka menyayangimu!"
Kata-kata menyentuh malam itu.
Aku tidak menyangka banyak orang yang masih menganggap
kehadiran ku di dunia ini. Sekilas, sakit hati mendengar berita yang ada di
luar sana. Tapi toh, ujung-ujungnya kita akan tau juga. Terlebih dibalik semua
itu, ada hal-hal lain yang ingin Tuhan tunjukan padaku hingga aku tersadar
bahwa kepedulian lah yang menggerakan mereka semua padaku. Mereka yang bertanya
hanya karena mereka mengerti. Mereka yang datang karena mereka memahami. Karena
pada dasarnya kita adalah makhluk yang sama.
Seperti itulah nikmat Tuhan. Selalu ada orang-orang
yang senantiasa menguatkan apapun caranya. Selalu ada kejutan-kejutan kecil
dibalik sebuah ujian. Selalu ada yang membuat air mata ini jatuh bukan karena
sakit yang menjadi alasan. Semua itu benar-benar murni karunia yang Tuhan
berikan. Aku terharu dan aku sangat mensyukurinya. Ternyata banyak orang yang
menyayangiku dan masih banyak orang yang mendorongku dari belakang bahkan
menarikku dari depan. Dan hal lain yang patut disyukuri adalah orang yang
peduli ternyata masih dan akan selalu peduli :)
Katanya, "adakala ketika kamu terjatuh,
benar-benar terjatuh hingga ke paling dasar. Kamu hanya mampu melihat ke atas
dan tak lagi bisa melihat ke bawah. Disitulah kamu sedang tumbuh menjadi lebih
kuat! " Mungkin benar! Sedikit demi sedikit aku bisa merasakan bahwa
ada sesuatu yang tumbuh di dalam sini. Saat semua itu kembali datang tanpa
diundang tentunya, aku lebih terbiasa dengannya. Sudahlah, toh memang begitu
adanya. Mungkin seseorang memang telah berubah dan itulah yang diinginkannya. Ya, seperti itu! Semesta sedang menyaksikan! Biarkanlah, yang penting kita hidup jauh lebih baik dan bersyukur
lebih banyak!
Menolak Lupa!
"Saat kita
memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan
kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan
memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”
*Tere
Liye
Waktu berjalan sangat cepat. Undoubtedly, It's been more than 4 years since the last . Aku baru ingat dulu juga pernah mengalami hari-hari berat. Berkali-kali seseorang berusaha meminta maaf, bukan tak memaafkan, tapi tak peduli lagi karena semua terlalu lama berlalu dan aku pun tak ingin mengingat. Tapi saat ini, memang benar lupa. Yang hanya aku ingat adalah hidupku lebih baik setelah setelahnya. Dan karena kejadian ini, aku memaafkan seseorang dengan penuh ketulusan. Kita akan mengingat kita pernah sakit hati. Tapi rasa sakit itu tidak akan pernah kita mengingatnya walau dicoba berulang kali berusaha mengingat seperti apa rasanya.
The end, not for the end, kita akan selalu belajar memaafkan
seseorang di masa lalu untuk lebih baik di masa datang. Kita tidak akan membuat
semua terulang. Maka pada saat pesan terakhirnya ia meminta maaf, aku hanya ingin memaafkan. I forgive you, You forgive me, no matter what had
happened in the past! Kita pun berusaha memaafkan diri sendiri untuk meraih
kedamaian hati dan melangkah lebih pasti. Ingat, kita tidak pernah mengundang seseorang datang dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah meminta sebuah nama dan memulai. Jika mereka yang datang dan lalu pergi, kembali lagi, toh semua itu
hanya takdir Tuhan dan semua ini hanyalah proses kehidupan.
“The beautiful journey of today can only
begin when we learn to let go of yesterday.”
Good things come to those who Wait
Lain orang, lain cerita, lain kepala lain rasa. Di
dunia ini, tipe orang memang berbeda-beda. Ada orang yang mudah dan ada orang
yang cenderung tidak mudah. Ada orang-orang yang menikmati proses belajar ada
yang tidak. Semua memang sudah ada yang mengatur. But, remembered "When
the going gets tough, the tough get going!" Orang-orang yang kuat tidak
pernah menyerah menghadapi tantangan. Mereka tak akan menyerah pada keadaan.
Mereka akan bekerja lebih keras dan berusaha lebih kuat. God helps those who
help themselves.
Suatu hari, aku akan benar-benar kembali. Not to be
somebody new. Tetapi justru menjadi diri sendiri yang sempat hilang.
Mengejar kembali mimpi-mimpi yang sempat tertahan. Menjadi pribadi yang selalu
berusaha berfikir positif dan bergerak optimis serta percaya akan kebesaran
Tuhan. Akan ada masa dimana memutar kembali lagu nya olivia ong dan hanya
tersenyum kecil seperti hal nya mendengarkan fix you nya si cold play atau lagu
Last Flowers to the Hospital nya Radiohead. Semua hanya indah pada masanya dan
akan berlalu pada waktunya. Mungkin benar, kesedihan adalah bukti bahwa kita
pernah bahagia. Dan yang abadi dari pertemuan adalah perpisahan.
Sejauh ini hidupku sudah jauh dari penalaran bukan? Maka
itulah bukti bahwa kebesaran Tuhan itu nyata. Allah itu ada. "Tak usah
tergesa berlari, segala sesuatu akan datang lebih baik bagi siapa yang
berhati-hati!" Akan ada masa dimana seseorang mengisi kembali hari yang
remang-remang. Melukis dan menyempurnakan senyum yang sempat terpendam tertutup
kesedihan. Menjadi saksi atas jatuh bangunnya saat kita berjuang, serta tidak menyerah saat kita butuh diingatkan. Berusahalah memantaskan diri untuk mempersiapkan hal besar yang akan
terjadi. Nikmati hari ini, pelajari, dan bersabar. However Long The
Night, The Dawn Will Break and I believe that all good things must come to an
end.
"Ada orang-orang yang melupakan,
ada yang memilih mengingat.
Ada orang-orang yang menyayangi, pun ada
yang tidak peduli lagi.
Maka, fokuslah pada yang tinggal,
mengingat dan menyayangi. Bukan yang pergi, melupakan dan tidak peduli. Jangan
dibalik, agar kita senantiasa bahagia."
*Tere Liye
Jakarta, September, 2016
0 komentar:
Post a Comment