The Owly Tales

My Journal

Sebuah Perjalanan dan Pelajaran Hidup

Leave a Comment

Berhenti mencari tau adalah sudah menjadi keputusan terbaik tanpa pilihan atau keputusan tak pasti karena akan dihantui banyak pertanyaan. Bukan ingin tak peduli lagi, sebagai manusia kita harus peduli terhadap sesamanya bukan? Tapi ini bukan hal-hal seperti itu. Pada intinya, sebagai manusia, kita berusaha. Berusaha mempersiapkan diri agar suatu hari tidak lagi memandang sesuatu dari sisi yang menyakitkan. Namun lagi, sepertinya Tuhan berkehendak lain.

"Adakala dimana jantungmu seolah berlari saat seseorang tiba-tiba menyapamu atau hanya menanyakan kabarmu. Disitulah kamu yakin bahwa sesuatu terjadi di luar sana dan dunia tidak sedang baik-baik saja!"

Sedikit memutar waktu ke belakang, gambar demi gambar berdatangan, berita demi berita bermunculan. Tidak hanya satu atau dua orang. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan, seperti menghujam jantung tanpa permisi. Hhhhhh, menghela napas dalam-dalam (lagi). Seandainya mereka tau aku sedang berusaha mengeringkan luka. Sepertinya malah mendapat perasan air garam. Sepintas dalam hati. Jam 3 dini hari itu, aku sudah memejamkan mata berjam-jam, ternyata masih terjaga. Akhirnya, apa yang hanya ada dalam pikiran, ku lontarkan juga. "Aku harus bagaimana lagi?" 

"Sebanyak apapun pertanyaan yang kamu ajukan, sebetulnya kau sudah tau jawabannya bukan? "


Benar! Mungkin aku sudah tau aku harus ikhlas dan aku pun ingin ikhlas. Aku tau semua ini adalah kehendak-Nya. "Lalu?" Aku ingat betul hari hari itu aku bimbang. Status ku pengangguran. Hubungan tidak ada kejelasan. Aku merasa sedang jatuh. Aku membutuhkan dorongan dan menginginkan jawaban. Aku membutuhkan pertolongan Tuhan. Aku banyak meluangkan waktu untuk meminta petunjuk-Nya. Aku tidak hanya melakukan solat lima waktu dan berdoa kepada-Nya. (Seolah seperti sudah melakukan hal yang benar!)

"Bukankah doamu telah didengar? Bukankah doamu sudah dijawab?" 

Iya, aku yakin! Maka mungkin ini berarti adalah jawaban dari Yang Maha Kuasa.  Lalu kenapa hati ini masih mengenal sedih jika ini adalah kehendak-Nya? Lantas jika semua ini atas kehendak-Nya kenapa semacam ada perasaan kecewa? Apakah aku menginginkan kesedihan? Apakah aku menginginkan sakit? Tidak! Tidak ada yang ingin sakit hati. Tidak ada yang memilih untuk bersedih. 

Aku akan menghargai seseorang yang  memutuskan pergi jika itu membuatnya bahagia. Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk tinggal jika aku tak mampu membuatnya bahagia. Aku juga tidak akan meminta sesuatu yang bukan milikku untuk menjadi milikku. Untuk apa? Aku tau bahwa semua orang punya hak atas pilihan hidupnya. Semua orang berhak bahagia terlepas dari apapun yang dirasakan orang lain yang berseberangan. Tapi kenapa Tuhan memberiku perasaan seperti ini? Tentu semua ini bukan atas keinginanku. Aku (pun) lelah! Haruskah aku mengatasnamakan manusiawi atas ketidakpuasan? 

"Apakah saat berdoa kamu telah pasrah?"
"Apakah saat berdoa kamu telah menyerahkan semua kepada-Nya?
"Apakah saat berdoa kamu sudah pasrah pada keputusan-Nya?

'(........)" Aku pun diam. 

Saat berdoa kita pasti cenderung pada satu jawaban. Saat berdoa, kita pasti cenderung memihak pada apa yang kita inginkan. Bahkan saat seseorang melakukan sholat istikhoroh, ia pasti lebih cenderung memikirkan bahwasannya jawaban Tuhan adalah seperti apa yang ia harapkan. Disitulah, kita lupa pasrah! Kalo bapak bilang, mungkin Tuhan ingin memberikan sepuluh, namun kita hanya meminta tujuh. Jadi, jangan pernah mematok nilai karena kita tidak pernah tau rencana Tuhan. Pasrah!

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" (Al-Baqarah, 2 : 186)

Kita sering kali melihat suatu kejadian dari satu sisi, sudut yang paling mencolok dan hanya terlihat oleh kita. Padahal Tuhan lebih tau apa yang tidak kita ketahui. Padahal sesungguhnya banyak hal yang harus kita syukuri. Seperti halnya Tuhan yang mengutus mereka untuk mengingatkanku lagi dan lagi atas kuasa-Nya. Tuhan yang mengutus mereka untuk menguatkanku seperti apapun jalannya. Tuhan menginginkan seorang hamba-Nya lebih kuat. Dan bisa jadi orang itu adalah kamu, aku, kita!

"Saat seseorang menyakiti kita dan kita masih peduli terhadapnya, disitulah kita baru mengetahui bahwa ada ketulusan di dalam diri kita tanpa selama ini kita sadari. Bersyukurlah karenanya!"

Jika Tuhan menghendaki umatnya menempuh suatu jalan, tidak berarti ia langsung dikuatkan dan semuanya mulus tanpa guncangan. Jika begitu, takkan ada yang namanya sedih. Takkan ada yang namanya sakit. Takkan ada yang namanya duka. Semua orang bahagia. Berarti tak ada yang namanya empati. Tak ada proses belajar dan menghargai. Terkadang manusia bersedih tanpa terencanakan atau diingin-inginkan. Maka mungkin memang Tuhan sedang menginginkan kamu bersedih agar kamu mengenalnya, agar kamu mengerti seperti apa rasanya dan memahami saat orang lain mengalaminya.

Walau bagaimanapun, ingatlah, saat kamu bersedih, bahwasannya akan selalu ada orang yang berkali lipat jauh lebih sakit dibalik kesedihanmu, yaitu Ibumu. Dan sepintar apapun kita menyembunyikan perasaan itu, ia akan mengetahui. Maka berusahalah untuk tidak berlarut dalam kesedihan, setidaknya demi ibumu.

"Orang yang menyayangi kita; tidak akan pergi meski kita sudah menyuruhnya pergi, berteriak, "tinggalkan aku sendiri." Orang yang menyayangi kita, tidak akan menyerah kepada kita, meski kita sudah bilang menyerah kepadanya" *Tere Liye

Ketika Akhirnya Mengenal "Syukur!"

Suatu hari, aku kedatangan dua orang teman dan pertemuan kami berujung di sebuah warung tenda di pinggiran ibu kota. Mereka datang hanya sebatas menanyakan kabar dan banyak orang ingin mengetahui bahwa aku baik-baik saja. Well, Im not sure yes it was. But, in fact, Im alive. Still alive. Ini hanya masalah pribadi yang seharusnya tak penting sama sekali. Namun, lain orang lain rasa. Dan terimakasih Tuhan, dunia mengerti! Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari obrolan kami malam itu. 

"Bisa jadi Tuhan yang mengirim kami agar kamu tidak bersedih (lagi), seperti apapun kondisi yang sedang kamu alami. Kamu berdoa, Tuhan mengabulkan. Jika Tuhan sebetulnya telah mendengar doamu dan mengirimkan bantuannya padamu sedang kamu mengabaikan, mungkin Tuhan pun akan lelah! Ingat, banyak orang peduli terhadapmu dan mereka menyayangimu!" Kata-kata menyentuh malam itu. 

Aku tidak menyangka banyak orang yang masih menganggap kehadiran ku di dunia ini. Sekilas, sakit hati mendengar berita yang ada di luar sana. Tapi toh, ujung-ujungnya kita akan tau juga. Terlebih dibalik semua itu, ada hal-hal lain yang ingin Tuhan tunjukan padaku hingga aku tersadar bahwa kepedulian lah yang menggerakan mereka semua padaku. Mereka yang bertanya hanya karena mereka mengerti. Mereka yang datang karena mereka memahami. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk yang sama. 

Seperti itulah nikmat Tuhan. Selalu ada orang-orang yang senantiasa menguatkan apapun caranya. Selalu ada kejutan-kejutan kecil dibalik sebuah ujian. Selalu ada yang membuat air mata ini jatuh bukan karena sakit yang menjadi alasan. Semua itu benar-benar murni karunia yang Tuhan berikan. Aku terharu dan aku sangat mensyukurinya. Ternyata banyak orang yang menyayangiku dan masih banyak orang yang mendorongku dari belakang bahkan menarikku dari depan. Dan hal lain yang patut disyukuri adalah orang yang peduli ternyata masih dan akan selalu peduli :) 

Katanya, "adakala ketika kamu terjatuh, benar-benar terjatuh hingga ke paling dasar. Kamu hanya mampu melihat ke atas dan tak lagi bisa melihat ke bawah. Disitulah kamu sedang tumbuh menjadi lebih kuat! " Mungkin benar! Sedikit demi sedikit aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tumbuh di dalam sini. Saat semua itu kembali datang tanpa diundang tentunya, aku lebih terbiasa dengannya. Sudahlah, toh memang begitu adanya. Mungkin seseorang memang telah berubah dan itulah yang diinginkannya. Ya, seperti itu! Semesta sedang menyaksikan! Biarkanlah, yang penting kita hidup jauh lebih baik dan bersyukur lebih banyak!

Menolak Lupa!

"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.” 
*Tere Liye

Waktu berjalan sangat cepat. Undoubtedly, It's been more than 4 years since the last . Aku baru ingat dulu juga pernah mengalami hari-hari berat.  Berkali-kali seseorang berusaha meminta maaf, bukan tak memaafkan, tapi tak peduli lagi karena semua terlalu lama berlalu dan aku pun tak ingin mengingat. Tapi saat ini, memang benar lupa. Yang hanya aku ingat adalah hidupku lebih baik setelah setelahnya. Dan karena kejadian ini, aku memaafkan seseorang dengan penuh ketulusan. Kita akan mengingat kita pernah sakit hati. Tapi rasa sakit itu tidak akan pernah kita mengingatnya walau dicoba berulang kali berusaha mengingat seperti apa rasanya.

The end, not for the end, kita akan selalu belajar memaafkan seseorang di masa lalu untuk lebih baik di masa datang. Kita tidak akan membuat semua terulang. Maka pada saat pesan terakhirnya ia meminta maaf, aku hanya ingin memaafkan. I forgive you, You forgive me, no matter what had happened in the past! Kita pun berusaha memaafkan diri sendiri untuk meraih kedamaian hati dan melangkah lebih pasti.  Ingat, kita tidak pernah mengundang seseorang datang dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah meminta sebuah nama dan memulai. Jika mereka yang datang dan lalu pergi, kembali lagi, toh semua itu hanya takdir Tuhan dan semua ini hanyalah proses kehidupan. 

“The beautiful journey of today can only begin when we learn to let go of yesterday.” 


Good things come to those who Wait

Lain orang, lain cerita, lain kepala lain rasa. Di dunia ini, tipe orang memang berbeda-beda. Ada orang yang mudah dan ada orang yang cenderung tidak mudah. Ada orang-orang yang menikmati proses belajar ada yang tidak. Semua memang sudah ada yang mengatur. But, remembered "When the going gets tough, the tough get going!" Orang-orang yang kuat tidak pernah menyerah menghadapi tantangan. Mereka tak akan menyerah pada keadaan. Mereka akan bekerja lebih keras dan berusaha lebih kuat. God helps those who help themselves.

Suatu hari, aku akan benar-benar kembali. Not to be somebody new. Tetapi justru menjadi diri sendiri yang sempat hilang. Mengejar kembali mimpi-mimpi yang sempat tertahan. Menjadi pribadi yang selalu berusaha berfikir positif dan bergerak optimis serta percaya akan kebesaran Tuhan. Akan ada masa dimana memutar kembali lagu nya olivia ong dan hanya tersenyum kecil seperti hal nya mendengarkan fix you nya si cold play atau lagu Last Flowers to the Hospital nya Radiohead. Semua hanya indah pada masanya dan akan berlalu pada waktunya. Mungkin benar, kesedihan adalah bukti bahwa kita pernah bahagia. Dan yang abadi dari pertemuan adalah perpisahan.

Sejauh ini hidupku sudah jauh dari penalaran bukan? Maka itulah bukti bahwa kebesaran Tuhan itu nyata. Allah itu ada. "Tak usah tergesa berlari, segala sesuatu akan datang lebih baik bagi siapa yang berhati-hati!" Akan ada masa dimana seseorang mengisi kembali hari yang remang-remang. Melukis dan menyempurnakan senyum yang sempat terpendam tertutup kesedihan. Menjadi saksi atas jatuh bangunnya saat kita berjuang, serta tidak menyerah saat kita butuh diingatkan. Berusahalah memantaskan diri untuk mempersiapkan hal besar yang akan terjadi. Nikmati hari ini, pelajari, dan bersabar.  However Long The Night, The Dawn Will Break and I believe that all good things must come to an end. 

"Ada orang-orang yang melupakan, ada yang memilih mengingat.
Ada orang-orang yang menyayangi, pun ada yang tidak peduli lagi.
Maka, fokuslah pada yang tinggal, mengingat dan menyayangi. Bukan yang pergi, melupakan dan tidak peduli. Jangan dibalik, agar kita senantiasa bahagia."
*Tere Liye




Jakarta, September, 2016









Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment