Kutapaki pantai, kupandangai lautan, ku pejamkan mata. Ku tapakkan kaki di setiap penjuru kota, hanya mengingatkan nama. Kutapaki gunung, ku lari ke hutan, ingin rasanya aku berteriak. Dan lalu hanya tinggallah aku, berdiri, sepi.
Aku tau, kemanapun ku berlari hanya akan membuka luka. Dalam setiap langkah, hati ini menjerit.
Waktu yang tidak sebentar itu meninggalkan banyak kenangan dalam hidupku. Senyum manis di wajahmu, canda dan tawamu, kekonyolanmu, keegoanmu, masih teringat jelas di memoriku. Namamu, terukir jelas dalam hatiku, terbercak tinta menggoreskan luka.
Kenangan manis itu terlalu menyakitiku. Ini tidak adil. Sungguh tidak adil bagiku. Kau menghilang di tengah kegelapan malam bak air ditelan panas. Ku teriakan namamu di setiap penjuru ruangan. Kudapati dua ekor kancil bercengkraman, berteriak kegirangan. Aku berada di jurang kehancuran.
Sakit, sakit sekali rasanya mengetahui hari itu kau menemuiku untuk salam perpisahan. Sakit, sakit rasanya melihat kau telah bahagia dalam keterpurukanku. Janji janji manismu berakhir di ujung penantianku. Perjuangaku telah usai dalam semua kepalsuanmu.
Bukan, ini bukan kesalahanmu. Aku yang terlalu mempercayaimu. Aku yang menciptakan mimpi-mimpi itu dalam benakku. Aku yang berfikir lebih tentangmu. Aku yang memegang teguh janji-janjimu. Aku yang menunggu hari itu akan datang. Aku, Aku, Aku yang bodoh ini yang pantas untuk disalahkan. Aku, hanya aku sendiri.
Dalam setiap tidurku, aku terbangun di tengah kegelapan malam. Mimpi buruk itu sungguh datang padaku. Gambar-gambar itu menghantuiku. Aku bagaikan diterjang ombak pantai, ditelan angin badai. Semua itu melemahkan ragaku. Waktu telah membentuk semua mimpi-mimpi itu. Semua itu hanya Kau ambil hanya dalam hitungan jari. Dalam waktu sekejap mata.
Aku tau Tuhan, Engkau sedang berbicara padaku. Kau ingin menunjukan kuasa-Mu padaku. Rasa sakit itu sungguh nyata. Kesedihan itu benar-benar dalam kurasakan. Aku sadar ia yang sekarang bukan lagi ia yang dulu ku kenal. Aku sadar, bahwa aku punya banyak kekurangan. Tapi jejak itu tak bisa kuhilangkan. Kenangan manis itu tak bisa kulupakan.
Tuhan, Aku lelah. Aku ingin melanjutkan kehidupan. Aku tak ingin terluka dan menebarkan luka. Aku ingin ikhlas melihatnya yang telah bahagia. Aku ingin ikhlas melupakan ia yang tak lagi sama. Aku ingin ikhlas melupakan manis-pahit kenangan itu. Aku tak ingin berdengki kepada seluruh insan di bumi-Mu, Tuhan. Sungguh, tolonglah aku. Aku ingin hilang ingatan!

0 komentar:
Post a Comment