“Ya Allah, berikanlah aku kesiapan untuk selalu mencerna setiap ilmu yang ku dapat khususnya aku yang akan menghadapi
ujian nasional. Berikanlah keberkahan padanya. Amin!” Doaku seusai solat subuh.
Semenjak
aku kecil, Bapak dan Ibu selalu mengajarkan ku untuk bangun di kala subuh dan
melaksanakan solat subuh dengan segera. Saat umurku masih menginjak 4 tahun,
Ibu pernah berkata : “Nak, bangunlah di waktu subuh. Maka Allah akan melancarkan
rezekimu”. Tidak begitu kufahami pada saat itu, namun aku selalu mengingat
pesan dari ibu tersebut. Bagiku, pada saat umurku baru 4 tahun, bangun di kala
subuh merupakan kebahagiaan karena aku bisa mendengarkan suara adzan, merasakan
embun pagi di halaman, mendengar ayam berkokok bersahutan dan menyambut sinar
mentari pagi yang hangat. Saat aku kecil, aku suka melihat orang-orang mengenakan
seragam sekolah beramai-ramai bersepeda sambil berceloteh di jalanan pinggiran
sawah. Saat itu, dalam benakku, “Aku ingin cepat bersekolah”.
Ibu
pernah berpesan bahwa Allah mendengarkan doa seorang anak yang soleh, maka
rajin-rajinlah berdoa dan melakukan solat malam, niscaya Allah akan mengabulkan
doa kita. Dilahirkan di lingkungan islam, dibesarkan oleh Ibu dan Bapak yang
selalu mengajarkan tentang islam, aku sangat bersyukur. Semenjak kecil aku
dipupuk untuk mencintai islam dan percaya akan Allah SWT. Ibu juga berkata
bahwa Allah menyukai orang-orang yang berusaha. Aku tidak pernah mengabaikan
pesan-pesan ibu semenjak aku kecil. Walaupun kadang kurang ku fahami, namun aku
akan selalu ingat perkataan ibu dan aku akan mematuhi apa yang ibu ajarkan
kepadaku mengenai islam dan ketakwaan terhadap Allah SWT.
Menghadapi
hari-hariku tanpa sesosok Bapak bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Bapak
sangat gagah, beliau memakai sepatu karet panjang dan helm dikepalanya. Suatu
hari aku bertanya pada Ibu, “Bu, mengapa Bapak jarang pulang? Sebetulnya apa
yang bapak kerjakan?” Lalu Ibu menjawab “Bapak membantu orang lain mendirikan
bangunan di tengah kota, kantor-kantor dan gedung-gedung tinggi yang bisa
menghidupi ratusan bahkan jutaan keluarga. Tanpa Bapak banyak orang tidak bisa
bekerja.” Aku pun tersenyum, aku bangga bahwa Bapak ternyata orang yang hebat.
Pekerjaannya sangat mulia, dan fisiknya pasti lah sangat kuat. Ibuku seorang ibu
rumahan. Ibu berjuang membantu Bapak dengan berkebun dan berjualan. Tidak
terpaku pada hal itu, ibu terkadang membantu tetangga di kampung sebelah untuk
membantu pekerjaan rumah. Aku selalu ingin membantu ibu mencucikan baju
tetangga dan mendapat upah, namun Ibu selalu berkata bahwa tugas seorang anak
hanyalah belajar. Akupun tersenyum. Kegigihan Bapak dan Ibu dalam bekerja,
selalu membangkitkan semangatku untuk terus belajar dan berprestasi di sekolah.
Ketakutan
bukanlah bagian dari hidup yang aku jalani. Bapak pulang sekali dalam seminggu.
Hidup bersama Ibu dan kedua adik yang aku sayangi, mengajarkan kami banyak hal
dan hidup untuk saling menguatkan. Aku tinggal di pedesaan. Rumahku dikelilingi
oleh hijau rerumputan dan pagi hari diramaikan oleh petani yang bercocok tanam
di sawah. Dikala malam, daratan menjadi sangat luas, gelap dan sunyi. Suara
jangkrik memecahkan keheningan malam dan saling bersahutan. Bunyi angin yang
seolah saling menyapa dengan pepohonan, membuat hati tentram menyelimuti
dinginnya malam. Aku bersahabat dengan kegelapan.
Fajar,
adik pertamaku, kelas 4 SD di almamater yang sama, SDN Bina Harapan. Aku
berangkat sekolah setiap hari bersama Fajar menggunakan sepeda. Terkadang, aku
duduk di belakang kemudi dan Fajar mengemudi. Terkadang kami bertukar posisi. Setiap
hari, kami akan berpamitan pada Ibu dengan seragam merah putih yang kami
kenakan. Sebelum berangkat ke sekolah, aku dan Fajar akan mencium tangan Ibu
dan kami selalu meminta doa agar kegiatan di sekolah dilancarkan. Guru agama di
sekolah pernah berkata bahwa Ibu adalah orang yang paling penting di dunia ini.
Pak guru menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut nama Ibu sebanyak 3 kali
saat ditanya siapa orang terpenting dalam hidupnya.
Aku,
Fajar dan Ira makan apa yang Ibu masak setiap hari di dapur kami. Terkadang,
kami tidur bersamaan dikala hujan. Membantu ibu menanam singkong dan berjualan
merupakan sarana bermain bagi kami. Kami sangat menikmati moment-moment itu.
Aku senang membantu ibu berkebun dan menuai hasil panen, lalu menjajakannya di etalase
teras. Kami bernyanyi dan tertawa-tawa saat berkebun. Aku akan membaca koran
dan majalah bekas sambil menunggu pembeli datang di teras rumah. Aku selalu
bersemangat karena ibu tidak jarang memberiku uang tambahan jika orang datang
membeli singkong hasil panen dari kebun kami.
Sedikit
demi sedikit, tabunganku bertambah. Aku ingin sekali membeli buku tulis untuk
menumpahkan semua mimpi-mimpiku di dalam buku itu. Akan ku sampul buku tersebut
dengan rapih dan kutumpahkan tinta pena sebagai saksi perjalanan hidupku di
setiap lembar halamannya. Akan aku perjuangkan setiap huruf yang menyusun kata
hingga membentuk kalimat di setiap nomornya. Akan aku penuhi kertas putih itu
dengan semua isi kepala yang disertai usahaku untuk mencoret satu per satu
setiap nomornya. Bapak pernah bilang padaku bahwa seorang yang memiliki mimpi
akan hidup jauh lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak memiliki
mimpi. Bapak, sepertinya aku mulai faham maksud Bapak :)
Sekali
lagi, ketakutan bukanlah bagian dari hidup yang aku
jalani. Dikala hujan akan datang, kami bersemangat mengangkat jemuran dan
memindahkan buku-buku pelajaran ke tempat yang aman. Aman dari kebocoran. Aman
dari percikan hujan yang menembus genteng rumah kami yang sudah mulai rapuh. Kami
mengumpulkan ember-ember untuk menampung air dari atap yang bocor. Aku bahagia
karena Allah menurunkan hujan sehingga ibu tidak harus menyirami kebun dan aku
pun mendapatkan waktu tambahan untuk belajar di tengah suara hujan, dalam rumah
yang penuh dengan genangan. Fajar dan Ira pun bahagia kegirangan, “Hujan
datang!”
Kami
menyukai hujan, namun kami tidak mengeluh dikala panas datang. Saat panas
datang, ibu mengambil singkong di kebun dan mengolahnya menjadi opak. Makanan tradisional
ringan yang terbuat dari singkong. Kami bersemangat menjemur opak di halaman di
pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Itulah benih-benih penghasilan yang
akan membelikan aku sebuah buku. Buku terpenting dalam hidupku. Para tetangga
sangat menyukai opak buatan ibu. Diolah sendiri oleh tangan ibu dan berasal
dari singkong yang kami tanam sendiri di kebun dekat rumah. Sepulang sekolah
aku akan menengok kepingan-kepingan opak yang berjejer di atas
wadah.“Ibu,,,,opaknya sudah kering!” Ibu pun tersenyum. Melihat senyum Ibu, aku
bahagia. Kuambil pena dan kertas-kertas lusuh itu, kutulis angka 7 dengan
diikuti kalimat “Aku ingin selalu melihat ibu tersenyum”.
Setelah
membungkus opak-opak untuk dijejerkan di etalase teras, aku termenung. Fajar
sudah kelas 4 SD dan Ira, masih berumur 3 tahun, sedang lucu-lucunya. Dan Aku,
aku akan Lulus SD. Aku senang karena aku akan masuk SMP. Aku tidak pernah
memikirkan apakah aku akan bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Bagiku, tugas
seorang pelajar adalah belajar. Jika aku berprestasi, maka akan selalu ada cara
untuk tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku sudah
bertekad sejak itu bahwa aku akan terus bermimpi dan berusaha menggapai
mimpi-mimpi itu. Lulus Ujian Nasional SD Bina Harapan, menjadi mimpiku yang ke 8
dan Kutulis lagi nomor-nomor selanjutnya di kertas itu.
Di
pertengahan selang waktu antara Isya dan Subuh, di tengah-tengah malam yang
sunyi sepi dimana mata terpejam erat seolah raga ini tak bangun kembali, dini
hari, aku terbiasa bangun mengambil air wudhu yang dingin meresap ke dalam
pori-pori kulitku. Jauh dari keramaian, aku ingin mencurahkan hatiku kepada
Allah, di dalam ketenangan. Sebelum pergi berwudhu, aku selalu menengok ke
samping kanan tempat tidur, tepat di tembok dinding kamarku, terdapat secarik
kertas dengan tulisan “Melati, Jangan Lupa Shalat!”, tulisan tangan bapak. Akupun
bergegas mengambil air wudhu dan hendak melaksanakan solat tahajud.Seusai
Tahajud, seperti biasa, aku mencurahkan isi hatiku kepada Allah, Sang Pencipta.
Isi curahanku saat itu, “Ya Allah, aku merindukan Bapak”.
0 komentar:
Post a Comment