The Owly Tales

My Journal

Aku Rindu Bapak ! (Part 1)

Leave a Comment
Adzan subuh berkumandang, membukakan selimut yang memelukku sepanjang malam. Bantal tempatku bersandar seolah terbang bersama guling-guling yang menemaniku tadi malam. Suara jangkrik yang memecah keheningan malam di pedesaan, tiba-tiba menghilang seolah sedang meresapi kumandang adzan. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, hendak melaksanakan solat subuh.
“Ya Allah, berikanlah aku kesiapan untuk selalu mencerna setiap ilmu yang ku dapat khususnya aku yang akan menghadapi ujian nasional. Berikanlah keberkahan padanya. Amin!” Doaku seusai solat subuh.

Semenjak aku kecil, Bapak dan Ibu selalu mengajarkan ku untuk bangun di kala subuh dan melaksanakan solat subuh dengan segera. Saat umurku masih menginjak 4 tahun, Ibu pernah berkata : “Nak, bangunlah di waktu subuh. Maka Allah akan melancarkan rezekimu”. Tidak begitu kufahami pada saat itu, namun aku selalu mengingat pesan dari ibu tersebut. Bagiku, pada saat umurku baru 4 tahun, bangun di kala subuh merupakan kebahagiaan karena aku bisa mendengarkan suara adzan, merasakan embun pagi di halaman, mendengar ayam berkokok bersahutan dan menyambut sinar mentari pagi yang hangat. Saat aku kecil, aku suka melihat orang-orang mengenakan seragam sekolah beramai-ramai bersepeda sambil berceloteh di jalanan pinggiran sawah. Saat itu, dalam benakku, “Aku ingin cepat bersekolah”.

Ibu pernah berpesan bahwa Allah mendengarkan doa seorang anak yang soleh, maka rajin-rajinlah berdoa dan melakukan solat malam, niscaya Allah akan mengabulkan doa kita. Dilahirkan di lingkungan islam, dibesarkan oleh Ibu dan Bapak yang selalu mengajarkan tentang islam, aku sangat bersyukur. Semenjak kecil aku dipupuk untuk mencintai islam dan percaya akan Allah SWT. Ibu juga berkata bahwa Allah menyukai orang-orang yang berusaha. Aku tidak pernah mengabaikan pesan-pesan ibu semenjak aku kecil. Walaupun kadang kurang ku fahami, namun aku akan selalu ingat perkataan ibu dan aku akan mematuhi apa yang ibu ajarkan kepadaku mengenai islam dan ketakwaan terhadap Allah SWT.

Menghadapi hari-hariku tanpa sesosok Bapak bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Bapak sangat gagah, beliau memakai sepatu karet panjang dan helm dikepalanya. Suatu hari aku bertanya pada Ibu, “Bu, mengapa Bapak jarang pulang? Sebetulnya apa yang bapak kerjakan?” Lalu Ibu menjawab “Bapak membantu orang lain mendirikan bangunan di tengah kota, kantor-kantor dan gedung-gedung tinggi yang bisa menghidupi ratusan bahkan jutaan keluarga. Tanpa Bapak banyak orang tidak bisa bekerja.” Aku pun tersenyum, aku bangga bahwa Bapak ternyata orang yang hebat. Pekerjaannya sangat mulia, dan fisiknya pasti lah sangat kuat. Ibuku seorang ibu rumahan. Ibu berjuang membantu Bapak dengan berkebun dan berjualan. Tidak terpaku pada hal itu, ibu terkadang membantu tetangga di kampung sebelah untuk membantu pekerjaan rumah. Aku selalu ingin membantu ibu mencucikan baju tetangga dan mendapat upah, namun Ibu selalu berkata bahwa tugas seorang anak hanyalah belajar. Akupun tersenyum. Kegigihan Bapak dan Ibu dalam bekerja, selalu membangkitkan semangatku untuk terus belajar dan berprestasi di sekolah.

Ketakutan bukanlah bagian dari hidup yang aku jalani. Bapak pulang sekali dalam seminggu. Hidup bersama Ibu dan kedua adik yang aku sayangi, mengajarkan kami banyak hal dan hidup untuk saling menguatkan. Aku tinggal di pedesaan. Rumahku dikelilingi oleh hijau rerumputan dan pagi hari diramaikan oleh petani yang bercocok tanam di sawah. Dikala malam, daratan menjadi sangat luas, gelap dan sunyi. Suara jangkrik memecahkan keheningan malam dan saling bersahutan. Bunyi angin yang seolah saling menyapa dengan pepohonan, membuat hati tentram menyelimuti dinginnya malam. Aku bersahabat dengan kegelapan.

Fajar, adik pertamaku, kelas 4 SD di almamater yang sama, SDN Bina Harapan. Aku berangkat sekolah setiap hari bersama Fajar menggunakan sepeda. Terkadang, aku duduk di belakang kemudi dan Fajar mengemudi. Terkadang kami bertukar posisi. Setiap hari, kami akan berpamitan pada Ibu dengan seragam merah putih yang kami kenakan. Sebelum berangkat ke sekolah, aku dan Fajar akan mencium tangan Ibu dan kami selalu meminta doa agar kegiatan di sekolah dilancarkan. Guru agama di sekolah pernah berkata bahwa Ibu adalah orang yang paling penting di dunia ini. Pak guru menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut nama Ibu sebanyak 3 kali saat ditanya siapa orang terpenting dalam hidupnya.

Aku, Fajar dan Ira makan apa yang Ibu masak setiap hari di dapur kami. Terkadang, kami tidur bersamaan dikala hujan. Membantu ibu menanam singkong dan berjualan merupakan sarana bermain bagi kami. Kami sangat menikmati moment-moment itu. Aku senang membantu ibu berkebun dan menuai hasil panen, lalu menjajakannya di etalase teras. Kami bernyanyi dan tertawa-tawa saat berkebun. Aku akan membaca koran dan majalah bekas sambil menunggu pembeli datang di teras rumah. Aku selalu bersemangat karena ibu tidak jarang memberiku uang tambahan jika orang datang membeli singkong hasil panen dari kebun kami.

Sedikit demi sedikit, tabunganku bertambah. Aku ingin sekali membeli buku tulis untuk menumpahkan semua mimpi-mimpiku di dalam buku itu. Akan ku sampul buku tersebut dengan rapih dan kutumpahkan tinta pena sebagai saksi perjalanan hidupku di setiap lembar halamannya. Akan aku perjuangkan setiap huruf yang menyusun kata hingga membentuk kalimat di setiap nomornya. Akan aku penuhi kertas putih itu dengan semua isi kepala yang disertai usahaku untuk mencoret satu per satu setiap nomornya. Bapak pernah bilang padaku bahwa seorang yang memiliki mimpi akan hidup jauh lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak memiliki mimpi. Bapak, sepertinya aku mulai faham maksud Bapak :)

Sekali lagi, ketakutan bukanlah bagian dari hidup yang aku jalani. Dikala hujan akan datang, kami bersemangat mengangkat jemuran dan memindahkan buku-buku pelajaran ke tempat yang aman. Aman dari kebocoran. Aman dari percikan hujan yang menembus genteng rumah kami yang sudah mulai rapuh. Kami mengumpulkan ember-ember untuk menampung air dari atap yang bocor. Aku bahagia karena Allah menurunkan hujan sehingga ibu tidak harus menyirami kebun dan aku pun mendapatkan waktu tambahan untuk belajar di tengah suara hujan, dalam rumah yang penuh dengan genangan. Fajar dan Ira pun bahagia kegirangan, “Hujan datang!”

Kami menyukai hujan, namun kami tidak mengeluh dikala panas datang. Saat panas datang, ibu mengambil singkong di kebun dan mengolahnya menjadi opak. Makanan tradisional ringan yang terbuat dari singkong. Kami bersemangat menjemur opak di halaman di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Itulah benih-benih penghasilan yang akan membelikan aku sebuah buku. Buku terpenting dalam hidupku. Para tetangga sangat menyukai opak buatan ibu. Diolah sendiri oleh tangan ibu dan berasal dari singkong yang kami tanam sendiri di kebun dekat rumah. Sepulang sekolah aku akan menengok kepingan-kepingan opak yang berjejer di atas wadah.“Ibu,,,,opaknya sudah kering!” Ibu pun tersenyum. Melihat senyum Ibu, aku bahagia. Kuambil pena dan kertas-kertas lusuh itu, kutulis angka 7 dengan diikuti kalimat “Aku ingin selalu melihat ibu tersenyum”.

Setelah membungkus opak-opak untuk dijejerkan di etalase teras, aku termenung. Fajar sudah kelas 4 SD dan Ira, masih berumur 3 tahun, sedang lucu-lucunya. Dan Aku, aku akan Lulus SD. Aku senang karena aku akan masuk SMP. Aku tidak pernah memikirkan apakah aku akan bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Bagiku, tugas seorang pelajar adalah belajar. Jika aku berprestasi, maka akan selalu ada cara untuk tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku sudah bertekad sejak itu bahwa aku akan terus bermimpi dan berusaha menggapai mimpi-mimpi itu. Lulus Ujian Nasional SD Bina Harapan, menjadi mimpiku yang ke 8 dan Kutulis lagi nomor-nomor selanjutnya di kertas itu.

Di pertengahan selang waktu antara Isya dan Subuh, di tengah-tengah malam yang sunyi sepi dimana mata terpejam erat seolah raga ini tak bangun kembali, dini hari, aku terbiasa bangun mengambil air wudhu yang dingin meresap ke dalam pori-pori kulitku. Jauh dari keramaian, aku ingin mencurahkan hatiku kepada Allah, di dalam ketenangan. Sebelum pergi berwudhu, aku selalu menengok ke samping kanan tempat tidur, tepat di tembok dinding kamarku, terdapat secarik kertas dengan tulisan “Melati, Jangan Lupa Shalat!”, tulisan tangan bapak. Akupun bergegas mengambil air wudhu dan hendak melaksanakan solat tahajud.Seusai Tahajud, seperti biasa, aku mencurahkan isi hatiku kepada Allah, Sang Pencipta. Isi curahanku saat itu, “Ya Allah, aku merindukan Bapak”.


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment